Bagaimana Cara Mengajak Anak Semangat Berolahraga

Berolahraga adalah salah satu kegiatan yang sangat berpengaruh besar untuk kehidupan kita dan sangat penting untuk kesehatan. Tidak hanya untuk orang dewasa, olahraga juga sangat penting untuk diajarkan pada si kecil sejak dini. Ya, karena memperkenal olahraga pada anak sejak usia belia, akan membantu anak mudah berolahraga di kemudian hari.

Pada usia 6-11 tahun, anak sangat dianjurkan untuk berolahraga. Dan, biasanya pada saat usia tersebut anak-anak akan mulai berolahraga dengan sendirinya tanpa di suruh orang tua, namun tidak sedikit juga sebagian anak yang masih enggan berolahraga dengan alasan-alasan tertentu.

Nah, pertanyaannya adalah, bagaimana sih cara atau tips mengajak anak agar semangat berolahraga?

1. Orangtua harus mencintai olahraga terlebih dulu

Akan sangat lucu rasanya jika kita menginginkan anak untuk semangat berolahraga, tetapi kita sendiri sebagai orangtua kurang menyukai atau bahkan tidak sama sekali suka berolahraga. Hal ini tentu akan menjadi contoh yang kurang baik untuk anak. Bagaimana anak akan mencintai olahraga, sementara orangtuanya pernah berolahraga?

Oleh sebab itu, jadilah orangtua yang menyukai olahraga, maka dengan begitu anak akan mencontoh perilaku hidup sehat dari orangtua mereka.

2. Jelaskan pengertian dan manfaat berolahraga

Terkadang kamauan dan ketidakmauan seorang anak, bisa disebabkan karena ketidaktahuannya tentang pengertian dan manfaat dari apa yang akan kita lakukan. Inilah sebabnya, betapa penting orangtua menjelaskan tentang pengertian dan manfaat dari berolahraga. Dengan menjelaskan mengenai kedua hal penting tadi, maka secara tidak langsung akan membangun persepsi anak tentang pentingnya berolahraga.

3. Cari tahu jenis olahraga yang disukai anak

Sebagai orangtua, tentu tidak sulit untuk melihat jenis olahraga apa yang disukai anak anda. Biasanya anak-anak diusia 6-11 tahun tengah menyukai bersepeda, berenang, dan bermain pula. Sayangnya, seringkali anak tidak secara rutin melakukan kegiatan tersebut. Nah, orangtua bisa menjadi alarm atau motivasi untuk mengingatkan bahkan menemani anak untuk melakukan olahraga yang ia sukai itu.

4. Jadilah teman anak berolahraga bersama

Point selanjutnya adalah jika kita sudah mengetahui olahraga apa yang disukai anak, maka jadilah teman dan sahabat anak dalam berolahraga agar anak lebih bersemangat melakukan olahraga.

5. Dukung anak berolahraga

Salah satu tips yang sangat penting untuk membuat anak bersemangat berolahraga adalah dukungan moril dari kedua orangtuanya. Misalnya, jika anak anda suka berenang, ajaklah ia untuk berenang bersama, mendaftarkan anak ke kelas renang, atau menjadikan ia aktif di dunia renang.

Itulah tadi 5 cara atau tips mengajak anak agar semangat berolahraga. Dengan berolahraga, tidak hanya  berpengaruh baik untuk kesehatan tubuh anak, tetapi juga dapat semakin mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan pengaruh baik untuk pembaca.

Bagaimana Cara Menyisipkan Pendidikan Karakter pada Anak Berkebutuhan Khusus?

Menurut Megawani (dalam Kesuma, dkk.;2011:5), “Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari” (Megawani (dalam Kesuma, dkk.;2011:5))

“Pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk dapat ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu” (Gaffar (dalam Kesuma, dkk.;2011:5)

Pendidikan adalah hak semua orang, baik sedari usia kecil sampai dewasa, kita dituntut untuk terus menggali ilmu. Begitu untuk urusan pendidikan karakter, sedari belia anak-anak kita ajarkan pendidikan karakter. Hal yang sama juga sangat dibutuhkan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter pada anak berkebutuhan khusus dapat dilakukan dengan menyisipkannya pada kegiatan sekolah, setiap mata pelajaran, serta pada ekstrakurikuler. Sama seperti anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus, mengajarkan anak berkebutuhan khusus tentang pendidikan karakter dapat melalui beberapa point dibawah ini. Mari kita simak bersama :

1. Melalui Nilai Agama

Salah satu cara untuk menyisipkan nilai ini, pendidik dapat menggunakan media pembelajaran agar siswa mudah memahami. Siswa ABK dapat diajak beribadah sesuai keyakinan masing-masing, menjaga hubungan antara sesama manusia, mencontoh perilaku orang yang baik, membedakan baik dan buruk, membedakan perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan oleh agama, dan lain-lain.

Pada kegiatan sekolah, penyisipan nilai agama contohnya dapat dilakukan ketika di kelas siswa diajak berdoa sebelum belajar, begitu pula setelah belajar, siswa diajak merayakan hari besar agamanya, dan lain-lain. Sedangkan untuk menyisipkan nilai agama pada setiap mata pelajaran lainnya, misalnya saja pelajaran IPA, ketika guru menerangkan materi lingkungan, siswa disinggung bahwa lingkungan itu diciptakan oleh Tuhan, maka dari itu manusia tidak boleh merusak lingkungan karena akan dihukum oleh Tuhan. Pada kegiatan ekstrakurikuler pramuka misalnya, ketika sesi penjelajahan siswa dikenalkan tempat-tempat beribadah yang ada disekitar sekolahnya atau lingkungan pramukanya.

Tips Sahur Sehat Buat Ibu Menyusui Yang Berpuasa

Dalam agama Islam, ibu hamil dan menyusui tidak dianjurkan untuk berpuasa agar tidak memperburuk kondisi bayi. Lalu bagaimana jika ibu yang menyusui tetap ingin berpuasa? Boleh saja, namun harus terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi bayi, yakni jika bayi telah memasuki usia 6 bulan dan dalam keadaan sehat. Karena diusia tersebut ketergantungan bayi terhadap ASI sudah tidak terlalu tinggi. Sebab, makanan pendamping ASI bisa memberikan asupan nutrisi tambahan yang dibutuhkan bayi.

Satu hal yang terpenting lainnya adalah, pastikan anda telah berkonsultasi dengan dokter, karena bagaimanapun dokter mengetahui riwayat kesehatan anda dan bayi sehingga sebelum memutuskan untuk berpuasa, anda telah berkonsultasi untuk mendapat saran terbaik.

Perlu diketahui, ketersedian ASI selama berpuasa tidak akan mengalami kekurangan karena anda hanya mengganti jadwal makan bukan berarti tidak makan. Inilah sebabnya anda harus memperhatikan asupan makanan yang anda konsumsi saat berbuka dan sahur, agat nutrisi untuk ASI yang berkualitas tidak berkurang.

Nah kali ini kita akan membahan tips sahur sehat untuk para ibu menyusui yang ingin berpuasa. Sahur adalah waktu untuk anda memilih jenis makanan yang baik dan memicu kelancaran ASI sepanjang harinya. Berikut tips sahur sehat untuk ibu menyusui. Check this out..

Konsumsilah Kalori Ganda

Jika sebelumnya ibu hanya mengkonsumsi sedikit jenis karbohidrat, nah pada saat sahur cobalah untuk menambahkan jenis nutrisi. Ibu dapat memilih sumber kalori dari karbohidrat kompleks karena memiliki manfaat untuk dicerna lebih lama, rasa lapar berkurang. Tambahan porsi sahur dimaksud bukan berarti ibu mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak sekaligus, tetapi ibu dapat mengatur jadwal makan sahur dengan jeda sebelum imsak.

Pada Usia Berapa Sebaiknya Mengajari Anak Berpuasa?

Bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan penuh keutamaan bagi umat Islam di seluruh dunia, bisa juga dijadikan moment yang tepat untuk melatih disiplin dan akhlak anak sejak dini. Artinya, melatih kedisplinan dan akhlak anak melalui berpuasa. Keluarga merupakan landasan dasar dan tempat pertama anak dalam belajar, baik dari perilaku maupun bimbingan orangtua. Dan, melatih anak berpuasa merupakan pendidikan kedisplinan akhlak yang bermula dari lingkup keluarga. Sebab, pendidikan akhlak dan karakter anak mulai distimulasi sejak dini oleh orangtua.

Meskipun anak-anak belum diwajibkan untuk berpuasa, namun tidak ada salahnya untuk memperkenalkan dan melatih anak berpuasa. Dan, orangtua berkewajiban akan hal ini. Setidaknya, orangtua dapat memulainya dengan memberikan pemahaman soal ibadah puasa pada anak-anak mereka.

Dr. Viramitha Kusnadi, seorang Dokter Spesialis Anak RSUP dr. Hasan Sadikin, Bandung menuturkan, waktu atau saat yang tepat mengenalkan dan mengajari anak tentang ibadah puasa biasanya dimulai saat anak berusia 4 tahun. Mengenalkan dan menanamkan kesadaran pada anak tentang puasa Ramadhan dapat dimulai secara bertahap dan menyenangkan.

Dengan mengajarkan anak puasa sejak dini, maka anak akan terbiasa menjalankan ibadah puasa sebagai sebuah kebiasaan dan bukan lagi menjadi tekanan. Hal ini juga akan bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan spiritual anak di masa mendatang.

Perlu diketahui, melatih anak puasa Ramadhan bukan berarti atau tidak sama dengan mewajibkan anak untuk langsung berpuasa. Ini hanya merupakan pelajaran mengenai kedisiplinan nilai-nilai agama. Apalagi di dalam ajaran Islam sendiri, Rasulullah bersabda “Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak-anak yang belum baligh”.

Di dalam Islam juga mengajarkan untuk tidak memaksakan atau tidak menghendaki unsur paksaan dalam mendidik anak. Maka dari itu, dalam melatih anak berpuasa orangtua harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan anak. Jadilah orangtua yang selalu memberikan motivasi dalam mendisiplinkan anak, begitupun dalam melatih mereka untuk puasa Ramadhan.

Saat awal latihan anak berpuasa Ramadhan, adalah masa penyesuaian tubuh terhadap rasa lapar. Mereka mungkin akan terlihat lemas dan mengantuk, tak mengapa. Biarkan mereka menghabiskan waktu untuk tidur siang, namun harus tetap di kontrol, jangan sampai mereka tidur berlebihan. Ajak mereka untuk tetap beraktifitas yang menyenangkan bersama agar mereka sedikit melupakan rasa lapar dan tidak menjadi pemalas.

Ya, puasa bukan berarti moment untuk bermalas-malasan, orangtua bisa memulai dengan mengajak anak untuk belajar mengaji, agar waktu tidak terbuang percuma. Biasanya anak-anak kecil akan suka belajar mengaji bersama teman-temannya di masjid atau mushola. Maka, doronglah anak anda untuk menghabiskan waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat.

Begitu pula saat sahur, setelah sahur ajak anak untuk menjalankan sholat Subuh berjamaah. Setelah itu, anda perlu membatasi kegiatan anak, jangan biarkan mereka jalan pagi dengan jarak yang jauh, atau melakukan olahraga yang menguras tenaga. Hal ini untuk mencegah anak-anak kehabisan energi. Dan, pada saat menjelang berbuka, biarkan anak-anak bermain 1 jam sebelum berbuka untuk ngabuburit.

Benarkah Kebanyakan Orang Tua Tidak Siap Menjadi Orang Tua?

Tahukah Anda? ternyata di atas 90 persen para orang tua adalah orang tua by accident. Yes! apa maksudnya orang tua by accident? Itulah orang tua yang tidak pernah bersekolah untuk menjadi orang tua. Jangankan bersekolah, belajar dan bersiap-siap saja boleh dikatakan hampir tidak pernah.

Padahal untuk menjadi dokter, sesorang harus menempuh pendidikan terlebih dahulu, begitu juga jika ingin menjadi seorang insinyur, pilot dan sebagainya maka harus lulus sekolah dahulu. Bagaimana mungkin seorang pilot yang tidak lulus sekolah mampu menjalankan pesawat?

Benarkah kebanyakan orang tua tidak siap menjadi orang tua?

Mari kita tanyakan kepada orang-orang yang sudah menikah atau mungkin saat perkenalan sebelum menikah. Obrolan apakah yang lebih banyak dibicarakan waktu itu? Apakah obrolan tentang persiapan untuk menjadi Ayah dan Ibu yang baik atau malah lebih banyak obrolan yang lain.

Apakah lebih sering ke toko buku untuk mencari buku-buku tentang persiapan menjadi Ayah dan Ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak atau pergi ke mall untuk membeli berbagai keperluan.

Pada masa hendak menikah apakah yang menjadi perhatian utama untuk dipersiapkan? belajar menjadi orang tua yang baik atau lebih banyak mempersiapkan pernak-pernik pernikahan dan bulan madu?

Sampai pada akhirnya, saat mengandung dan persiapan untuk melahirkan, mana yang lebih banyak dipersiapkan? belajar untuk menjadi orang tua yang baik? ataukah pernak-pernik bayi, pemilihan rumah bersalin, dokter, nama dan sebagainya?

Pertanyaannya adalah jika ternyata kita tidak pernah atau sedikit mempersiapkan diri untuk belajar menjadi orang tua yang baik, lantas dengan cara apa kita mendidik atau mengasuh anak kita?

Menjadi orang tua itu tidak mudah. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan berakhlak adalah tugas yang sangat berat.

Kebanyakan orang tua hanya mengandalkan insting dan pelajaran dari orang tuanya dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan. Namun ada juga orang tua yang mau belajar untuk menjadi orang tua. Namun orang tua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orang tua lain yang cuek dan tidak mau belajar. Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orang tua yang kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet, telepon seluler, dan media cetak bahkan pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitar kita. Dampaknya permasalahan sosial akan tumbuh subuh disekitar kita.

Selama ini orang tua tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anaknya, sehingga berakibat buruk di kemudian hari.

Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orang tuanya

Sayangnya, kebanyakan mereka baru sadar ketika anak-anaknya menginjak dewasa. Orang tua harus berpacu dengan perkembangan teknologi dan kemajuan informasi yang disana juga banyak bermuatan informasi negatif.

Para calon orang tua yang berbahagia, mari bersama-sama kita menjadi orang tua yang baik untuk putra-putri kita tercinta. Di dalam ajaran islam, ada tiga amalan yang tidak akan putus ketika kita sudah dipanggil menghadapNya, dan salah satunya adalah anak yang sholeh dan sholehah.

Disadur dari tulisan Ayah Edy dan Bunda Elly Risman.